Bahasa Tubuh & Mental.

3 bulan yang lalu


Setapak demi setapak kaki saya melangkah mengikuti lajur yang mendaki. Udara seketika terasa dingin saat saya menghentikan langkah. Meskipun saat itu musim panas, tapi area Sagarmatha – nama lain dari wilayah Everest dan sekitarnya – tetaplah terasa dingin di kulit makhluk tropis ini.

Sudah tujuh hari saya berjalan, dengan perjalanan rata-rata delapan jam setiap harinya. Dan semakin lama, udara yang saya hirup terasa semakin berat. Ini pertanda bahwa saya berada semakin tinggi dari permukaan air laut.

Saat berhenti sejenak menghirup oksigen yang terasa tipis tersebut, saya menengok ke belakang. Tampak seorang nenek yang mendaki perlahan. Ia pasti sedang menuju desa yang nanti akan saya lewati.

Ketika tiba di tempat saya berhenti, ia menepuk punggung saya lalu memperagakan cara memasang kain sebagai penutup mulut dan hidung. Rupanya nenek tersebut mengajarkan cara masyarakat setempat menghadapi oksigen yang tipis. Ia lalu memberi tanda melanjutkan perjalanan dan meninggalkan saya yang masih kesulitan bernafas.

Saya kembali melangkahkan kaki menyusuri jalur landai yang dipenuhi dengan batu dan pasir. Semakin jauh melangkah, saya semakin menyadari bahwa saya mulai mengalami gejala hipoksia. Tubuh saya mulai berbicara mengenai perubahan jumlah pasokan oksigen dalam darah. Saya merasa mual, lalu tak lama kemudian muntah.

Saya dapat merasakan tubuh saya saat itu sedang berkomunikasi dengan mental saya. Ia memberitahu bahwa saya terlalu cepat berjalan. Tekanan udara yang tinggi dan oksigen yang tipis mengharuskan pendaki berdiam diri beberapa lama untuk aklimatisasi, atau jika harus terus berjalan semestinya melangkah dengan perlahan.

Saat perjalanan seperti itu terasa sekali dalam kesadaran, tubuh dan mental saling memberitahu batas-batasnya. Komunikasi yang semestinya juga harus dilakukan secara terus menerus. Meskipun dalam keseharian kita bahkan sering lupa untuk memberi perhatian dan terima kasih kepada diri dan tubuh kita sendiri. ⁣

3  Suka  0 Komentar

Silahkan login atau mendaftar terlebih dahulu untuk memberikan komentar ke konten ini


Muchamad Nugie