Suatu sore di Patan Durbar Square

3 bulan yang lalu



Setelah mengambil foto ini, saya dihampiri seseorang dan menyapa menggunakan bahasa Mongolia. Saya menggelengkan kepala. ‘Are you Japanese?’ Lagi-lagi saya menafikan dugaannya. Untuk kesekian kalinya, orang Nepal mengira saya berasal dari Jepang atau Mongol. Entah bagian mana dari wajah Jawa ini yang memiliki kesamaan dengan kedua bangsa itu.

Setelah saya beritahu asal negara saya, pria tersebut tiba-tiba memberikan beberapa biji buah Rudraksha -banyak dibuat sebagai bahan ornamen spiritual Hindu/Buddha- sambil mengatakan, ‘You are a lucky person’, lalu pergi. Aneh. Tapi saya tidak mau ambil pusing.

Saya kemudian duduk di sudut kuil yang relatif sepi. Beberapa saat setelah itu, pria tersebut kembali datang mendekat dan duduk di sebelah saya. Ia berbasa-basi mengenai cuaca dan kuil, lalu memperkenalkan diri, ‘Balsudun’ ujarnya sambil mengulurkan tangan.

Ternyata menarik juga berbincang dengan Balsudun. Ia bercerita banyak hal mengenai kondisi Nepal akhir-akhir ini. Setelah cukup lama mengobrol, Balsudun mengajak saya singgah di rumahnya. Saya mengiyakan. Siapa tahu menemukan hal-hal tak terduga. Kalaupun ini scam, saya juga ingin tahu sejauh mana modusnya.

Rumahnya kecil ala tipe 21 tapi bertingkat tiga bersambung dengan tetangga mirip deretan ruko di Indonesia, hanya saja berupa bangunan tua yang dominan kayu seperti banyak bangunan tua lainnya di Kathmandu.

Setiba di dalam rumah, Balsudun memperkenalkan ibu, saudara juga keponakan-keponakannya. Mereka langsung menjamu saya dengan chiya (teh susu). Balsudun lalu mengajak saya menikmati pemandangan kuil-kuil Patan dari atap rumahnya. Sambil berbincang, tiba-tiba ia meminta saya membuka telapak tangan, kemudian mengatakan alasan kenapa ia mendekati saya, ‘You look spiritual and I thought you were a lama in your past. And you will come to this country many times‘.

Saya hanya tersenyum mendengarnya, lalu pamit pulang. Sebelum meninggalkan rumahnya, Balsudun memberi saya peci khas Nepal dan sebuah surat kabar berbahasa Nepal.

Hmm.. Sepertinya tampang begajulan dan spiritual itu tipis batasnya.

3  Suka  0 Komentar

Silahkan login atau mendaftar terlebih dahulu untuk memberikan komentar ke konten ini


Muchamad Nugie