Tuol Sleng Genocide Museum & The Killing Field.

4 bulan yang lalu


Dari berbagai tempat yang pernah saya kunjungi, dua tempat di kota Phnom Penh, Cambodia ini merupakan beberapa tempat yang tak terlupakan. Di lokasi-lokasi tersebut, saya merasa mendatangi jurang paling dasar dari sejarah kemanusiaan. Beberapa teman yang pernah ke sana bahkan mengalami mimpi buruk berhari-hari usai berkunjung.

Bulu kuduk saya saja sudah langsung berdiri ketika baru melangkah di pintu masuk Genocide Museum. Saat itu, saya bersamaan dengan seorang bapak dari Kanada yang ternyata merasakan hal yang sama. Kami sama-sama melihat bulu kuduk di tangan. 'It must be a horrible place, Man!’ ujarnya. 

Tuol Sleng Genocide Museum adalah bangunan sekolah yang dijadikan penjara sekaligus tempat penyiksaan pada masa Rezim Khmer Merah pimpinan Pol Pot pada tahun 1975-1979. Pol Pot menamakan penjara ini dengan S-21. Semua yang dianggap kontra revolusi atau berkhianat terhadapnya, akan dijebloskan ke tempat ini serta dipastikan akan melalui berbagai metoda penyiksaan dan tak akan pernah kembali.

Setelah disiksa di S-21, tahanan akan dibawa ke The Killing Fields-15 km dari penjara tersebut- untuk dihabisi. Mereka biasanya dikirim ke The Killing Fields pada malam hari. Dalam seharinya, Pol Pot bisa menghabisi 300 nyawa di ladang pembantaian tersebut. Peluru terlalu mahal untuk melakukan eksekusi. Tahanan biasanya dihabisi dengan pisau, besi, bambu atau apapun yang murah dan cepat. Musik dengan pengeras suara dipasang di pohon yg berada di tengah area pembantaian, agar teriakan korban tersamarkan.

Di samping itu, Pol Pot juga berusaha mengantisipasi dendam. Ia akan melenyapkan juga seluruh anggota keluarga tahanannya agar tidak ada pembalasan dendam di kemudian hari. Karenanya terdapat lokasi khusus membantai bayi & wanita. Setelah dibantai, korban-korban Pol Pot akan disiram cairan kimia utk menghilangkan bau dan memastikan mereka mati.Rezim Pol Pot telah membunuh hampir 1,7 juta jiwa rakyatnya atau seperempat dari penduduk Cambodia kala itu. Dan ia mendokumentasikan dengan baik seluruh tahanan yg disiksa hingga mati.

3  Suka  1 Komentar

Silahkan login atau mendaftar terlebih dahulu untuk memberikan komentar ke konten ini


Muchamad Nugie