Asrul Sani dan Penulisan Skenario di Indonesia (1)

4 bulan yang lalu


Pertengahan tahun 1980-an, seorang Asrul Sani menawarkan dua buah skenarionya kepada banyak orang. Tetapi hasilnya nihil. Akhirnya,setelah bertahun-tahun gagal menjual skenarionya, Asrul bertemu dengan Chairul Umam--sutradara yang paling sering membuat film dari skenario buatannya. Kedua skenario ini, menurut penuturan Umam, lantas dibeli oleh Prasidi Teta Film, perusahaan film yang dibentuknya bersama Budiyati Abiyoga.

Dan hasilnya sungguh luar biasa. Skenario yang pertama adalah Mengapa Tuhan menciptakan Wanita yang diubah menjadi Kejarlah Daku Kau Kutangkap (Chairul Umam, 1985) yang skenarionya meraih Piala Citra tahun 1986, filmnya laris manis dan meraih Piala Anteman dan juga Piala Bing Slamet, serta membuat Chairul Umam keliling dunia mengikuti berbagai festival film. Yang kedua, adalah Naga Bonar (MT Risyaf, 1986) yang digarap setahun kemudian dan meraih Piala Citra 1987 tidak hanya untuk skenarionya, tetapi juga untuk Film, Cerita, Pemeran Utama Pria (Deddy Mizwar), Pemeran Pembantu Wanita (Roldiah Matulessy), Musik, dan Tata Suara. Dan kita semua mafhum, kedua skenario karya Asrul Sani itu menjadi tonggak penting bagi penulisan skenario di Indonesia

Asrul Sani baru saja meninggalkan kita. Wafat pada Januari 2004 lalu, bangsa Indonesia kehilangan seorang budayawan yang pemikir dan mempunyai keluasan bacaan. Boleh jadi, Asrul adalah sosok penulis yang paling lengkap ynag pernah ada di Indonesia. Dia menulis sajak yang terkumpul dalam Mantera (Budaya Jaya, 1975), dan cerita pendek yeng terkumpul dalam Dari Suatu Masa, Dari Suatu Tempat (Pustaka Jaya, 1972). Dia juga seorang esais yang jempolan dan menguasai semua bidang kesenian seperti teater, kesusastraan, dan perfilman seperti yang terbaca dalam kumpulan esainya berjudul Surat-Surat Kepercayaan (Pustaka Jaya, 1997). Khusus untuk film, Asrul tidak saja seorang kritikus film yang handal, tetapi juga seorang penulis skenario yang sulit dicari tandingannya di negeri ini. Tulisan ini difokuskan pada sosok Asrul sang penulis skenario, dan perkembangan penulisan skenario dewasa ini.

Sebagai seorang penulis skenario, Asrul mendapat hadiah di Festival Film Internasional dalam Lewat Djam Malam (Usmar Ismail, 1956) dan Apa yang Kau Tjari Palupi (Asrul Sani, 1970). Dalam Festival Film Indonesia (FFI), skenario budayawan kelahiran Rao, Sumatera Barat 10 Juni 1927 ini acap meraih Piala Citra, yaitu Kemelut Hidup (Asrul Sani, 1979), Titian Serambut Dibelah Tujuh (Chairul Umam,1983), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (Chairul Umam, 1986), dan Naga Bonar (MT Risyaf, 1987). Naga Bonar juga mendapat Citra di kategori Cerita Terbaik.Pada FFI yang pertama tahun 1955, film Lewat Djam Malam mendapat catatan khusus. Selama 20 kali FFI, Asrul mendapat 8 Piala Citra (3 untuk cerita, 5 untuk skenario).

Pendiri Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) bersama Usmar Ismail ini juga masuk ke dalam industri sinetron lewat skenario adaptasi dari Sitti Nurbaya, Salah Asuhan, dan Sengsara Membawa Nikmat. Asrul juga terlibat secara langsung sebagai Dewan Kesenian Jakarta dan pernah menjadi Wakil Ketua Dewan Film Nasional. Tetapi, tanpa terjebak menjadi birokrat, Asrul tetap dan terus berkaya lewat skenario film.

Semua narasumber yang penulis wawancarai menyatakan sikap hormat dan kagum kepada Asrul. Umam menyatakan bahwa sejak 1972, tiga tahun sebelum dia masuk ke dunia film, Umam sudah terobsesi untuk menyutradarai film Titian. "Waktu itu Misbah baru merintis sinematek. Saya main ke tempat Misbah dan mengubek-ubek naskah-naskah tua. Waktu mendapatkan skenario Titian, timbul niat untuk menyutradarainya. Sewaktu ada program pengajuan film yang diselenggarakan Dewan Film Nasional (1981-1982), saya ajukan skenario itu. Tetapi, karena Pak Asrul masuk duduk dalam Dewan Film waktu itu, yang menyelenggarakan program itu, maka terpaksa ditunda setahun," ujar Umam saat ditemui penulis di lokasi syuting Raja Pelit, sebuah sinetron komedi adaptasi karya Moliere yang sedang digarapnya dengan pemain Didi Petet dan Adi Bing Slamet.. Butuh waktu 10 tahun bagi Umam untuk merealisasikan niatnya itu. Tetapi penantiannya tidak sia-sia. Film ini menyabet Penghargaan PWI Jaya sebagai Film Drama Terbaik 1983 serta menyabet Piala Citra untuk Skenario terbaik dalam FFI 1983 dan mendapat 10 nominasi, termasuk film dan sutradara terbaik.

Sementara Nia Dinata (sutradara dan penulis skenario Ca Bau Kan dan Arisan!), Riri Riza (sutradara dan penulis skenario Eliana Eliana), Jujur Prananto (penulis skenario Ada Apa dengan Cinta?, Petualangan Sherina), dan Lintang Pramudya Wardani (penulis skenario televisi) juga menyatakan kekagumannya terhadap skenario racikan Asrul. Dinata, misalnya, menyatakan bahwa dirinya tidak mengenal Asrul secara pribadi, tapi Dinata menilai karya-karyanya sangat menggigit dan melegenda. Sedangkan Prananto dengan jelas menyatakan Asrul adalah penulis skenario favoritnya.

Umam, agaknya narasumber satu-satunya yang pernah berinteraksi dengan Asrul, bahkan termasuk yang paling sering memakai skenario Asrul untuk film-filmnya. Film pertamanya, Tiga Sekawan (1975)--sebuah film komedi yang menampilkan Ateng, Iskak, Eddy Sud dan debut awal aktor cilik Adi Bing Slamet--adalah skenario garapan Asrul. Film Asrul lainnya yang mengambil skenario dari Asrul adalah Al-Kautsar (1977), Titian Serambut Dibelah Tujuh, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Nada dan Dakwah (1991), dan film hasil adaptasi novel The Rain Maker karya Richard Nash, Bintang Kejora (1986).

Al-Kautsar meraih penghargaan Tata Suara Terbaik di Festival Film Asia ke 32 di Bangkok, festival kompetitif satu-satunya tahun itu. Padahal saat itu, Umam datang bersama Turino Djunaedi, Sjuman Djaya, dan Wim Umboh. "Padahal Wim Umboh saat itu sedang jaya-jayanya, tetapi saya sendiri yang menang, salah satunya berkat skenario dari Asrul", kenang Umam. Sementara Nada dan Dakwah meraih Piala Citra FFI 1992 untuk Cerita dan Suara Terbaik.

Tetapi, skenario Asrul yang paling berkesan di hati Umam adalah Titian dan Kejarlah Daku. " Saya memakai skenario Titian, naskah asli tahun 1959. Saat itu mungkin Pak Asrul masih sangat bersemangat, dan masih studi film western, karena itu gayanya agak mirip koboi. Skenarionya rapi dan teoritis. Kekuatannya ada pada penggarapan karakter-karakternya,"puji sutradara film Ramadan dan Ramona ini. "Salah satu daya tarik dari seni pertunjukan adalah perbedaan-perbedaan karakter, dan Pak Asrul kuat disitu, di Titian dan di Kejarlah. Deddy Mizwar karakternya seperti apa, dengan dibaca saja sudah jelas. Jadi menggarapnya enak. Demikian pula di Titian, karakter Halimah, Saladin, enak. Sehingga, castingnya juga enak. Tidak setiap orang bisa main di karakter itu. Asrul sudah menciptakan karakternya, sutradara tinggal menggarap dan tidak perlu menciptakan lagi. Jadi, membangun konfliknya enak," sambungnya.

Favorit Dinata adalah skenario Kejarlah Daku dan Naga Bonar. "Karena dua film itu sering saya kecil waktu remaja. Komedinya yang tidak slapstick dan cerdas itu yang saya suka…" terangnya lewat surat elektronik.

Sedangkan Prananto menyatakan paling suka dengan Kejarlah Daku yang "…nyata-nyata sebuah karya yang tidak bisa 10 tahun sekali lahir". Prananto berargumen bahwa skenario itu adalah miniatur dari problem keluarga Indonesia seperti itu. Yang miniatur seperti itu, menurut Prananto, jarang lahir di Indonesia. Untuk tayangan televisi, film televisi yang skenarionya digarap Asrul di TVRI juga yang mengesankan. Biasanya skenario Asrul itu disutradarai Erwinsyah dan dimainkan oleh Mutiara Sani, istrinya. Sinetron Asrul, menurut penulis sinetron serial Ada Apa dengan Cinta itu, juga merupakan miniatur dari Indonesia.

Sementara Riza mengagumi Titian dan Naga Bonar, yang menurutnya merupakan karya klasik dari film Indonesia modern. ". Warnanya begitu kental. Ada komik, ada realisme sosial, ada tekstur budaya Idonesia yang kental di dalamnya, ada Jawa, ada Bataknya. Ada keseharian Indonesia di dalamnya. Ada cerita, ada karakter, ada pencariannya. Karakternya jelas dan tujuan karakternya jelas. Jadi sesuatu yang klasik dan universal," jelas sutradara yang sedang menggarap biografi Soe Hok Gie ke layar lebar ini. Pendek kata: "International Standar Screenwriting!", tegas alumnus University of London yang mengambil gelar Master di bidang skenario itu.

Sementara, masih menurut Riza, judul Apa yang Kau Cari Palupi juga menjadi legenda dalam istilah pergaulan di tahun 1970-an. " Saya pernah mendengar Gunawan Mohamad bilang bahwa film itu bisa mencengkram kita dari bagaimana film itu berbunyi. Kalimat 'Apa yang Kau Cari' akhirnya menjadi idiom klasik di tahun 1970-an", jelas salah satu sutradara film Kuldesak itu. Agaknya, judul yang menjadi tren bahasa itu pula yang terulang pada judul film yang Riza turut produseri, Ada Apa dengan Cinta.

Bagaimana pengalaman memfilmkan skenario Asrul? "Pak Asrul melepaskan skenarionya untuk saya garap, terserah mau saya apain. Dia tidak cerewet, "terang Umam."Waktu pertama kali saya menyutradarai,selain menjadi penulis skenario, dia juga jadi supervisi. Tetapi dia tidak campur tangan. Ketika saya tanya, mengapa tidak memberi masukan, dia bilang kalau tugas supervisi itu di rumah, kalau ditanya barulah menjawab. Kalau tidak ditanya, ya berarti belum ada tugasnya, "jelasnya sambil tertawa kecil. Mengenai format skenario, Umam menyatakan bahwa skenarionya tidak "cerewet", hanya berupa plot saja, dan nyaris tidak ada istilah-istilah teknis sinematografi.

Umam juga mengisahkan pengalaman menarik dengan Asrul. Waktu ikut festival film di Jepang di awal 1990-an, Umam hadir bersama Asrul." Saya bawa Kejarlah Daku untuk diputar disana, sedangkan Pak Asrul mengisi seminar tentang film. Ternyata pak Asrul luar biasanya bahasa asingnya. Dia ternyata mengerti juga bahasa Jepang, " jelas sutradara sinetron Jalan Lain Kesana ini.. "Tetapi, kalau masuk ke toko buku," sambungnya, "habislah waktu disana. Bisa nongkrong seharian. Saya jadi dicuekin, jadi susah mau belanja apa atau pergi kemana. Nanti pulang ke Jakarta, bawa setumpuk buku, bisa-bisa over weight," tuturnya.

Kekuatan Asrul

Asrul memang bukan sekadar penulis skenario. Dia adalah satu dari sedikit sosok budayawan utuh, yang pernah hidup di Indonesia. Dalam dunia penulisan, pun dirinya tampaknya menulis semua bidang kebudayaan, termasuk menulis puisi bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar dalam Tiga Menguak Takdir (1950), serta konseptor Surat Kepercayan Gelanggang (1948) yang dipandang sebagai konsep pandangan dunia para seniman angkatan 1945. Asrul juga acap menerjemahkan dan menyutradarai lebih dari 100 lakon terkenal, antara lain, karya Anton Checkhov, Jean-Paul Sartre, dan Albert Camus, disamping puisi, diantaranya, karya T.S. Elliot, Marsman, dan Federico Garcia Lorca. Keluasan bacaan dan pengalamannya membuat skenarionya semakin kaya.

"Asrul menjadi sangat langka karena pada dasarnya dia budayawan yang punya kemampuan menulis skenario," komentar Prananto. "Asrul bukan sekadar penulis yang berwawasan, tetapi sebaliknya, budayawan yang mempunyai ketrampilan membuat skenario. Otomatis, apa yang terciprat dalam karyanya adalah karya seorang budayawan, bukan sekadar karya penulis skenario, "jelas penulis antologi cerpen Parmin itu.

Pengalaman hidupnya juga membuat wawasannya sungguh luas. "Dulu, iklimnya pasti lebih kondusif untuk lahirnya para pemikir. Jaman itu melahirkan figur-figur tertentu. Masa Asrul muda adalah masa pergulatan para pemikir. Sekarang, kondusif untuk melahirkan pekerja atau konsumen. Pemikir di masa kini tidak ada tempat, kecuali mungkin di litbang," imbuh Prananto.

Lantas, apa kelebihan skenario garapan Asrul dibandingkan dengan yang lainnya? Menurut Dinata, kelebihan Asrul adalah cerita yang mengalir enak, dialog yang pas berisi blak-blakan tanpa pretensi.

Menurut Umam, seperti sempat disinggungnya diatas, kekuatan pembangunan karakter sangat kuat pada skenario Asrul. Lalu plotnya, progresi dan perkembangan cerita, persoalan, dan masing-masing karakter yang menanjak dan berkembang, suatu unsur yang juga ada pada Misbah Jusa Biran. Lalu bahasanya yang bergaya sastra.Leluconnya itu menyastra dan cerdas. Sosok Asrul yang juga menonjol dan sangat mempengaruhi penulisan skenario yang bagus, menurut Umam, adalah bacaan dan wawasan yang luas dalam hampir semua bidang, dan juga bakat.

Riza melihat dari sisi yang berbeda, walaupun ada irisan persamaan pendapat. Menurut Riza, Asrul tidak hanya sekadar bisa menulis, tetapi faham betul mata kamera. Dia tidak hanya melihat karakter, aksi-reaksi, dialog-monolog, tapi respons karakter terhadap ruangnya, properti, dan terkadang pencahayaan. Riza menyatakan bahwa penguasaan Asrul pada medium skenario sudah pada tingkat secara advance.

"Tekstur Naga Bonar sungguh jelas. Mungkin karena Asrul adalah seorang sastrawan. Jadi, ada idiom yang simpel sekali. Misalnya, Asrul menulis ada karakter yang keluar dan melihat "kuda berkulit harimau" yang berada di depannya. Itu kalimat skenario yang efektif. Seorang Deddy Mizwar bisa dengan gampang menarik tafsir dari kalimat pendek itu, " jelas Riza.

Pengalaman hidup, menurut Riza, juga merupakan unsur yang menentukan. Asrul termasuk generasi yang beruntung dari sastrawan Indonesia, berada di era dimana, mau tidak mau, seorang seniman adalah tidak hanya produk kesenian tetapi juga politik bangsanya. Asrul juga berinteraksi dengan orang-orang besar di masa itu, seperti Chairil Anwar. "Sebagai penulis skenario, dia bisa memanage semua pikiran, perasaan, dan pengalamannya menjadi sebuah skenario yang luar biasa, "jelas pembuat film pendek Soneta Kampung Bata yang menjadi juara ketiga di Festival Film Pendek Oberhausen itu.

Riza mengatakan, setidaknya ada dua pelajaran yang bisa diambil dari seorang Asrul Sani. Pertama adalah punya standar kualitas yang tinggi. Seniman masa itu tidak mau sekadar melahirkan karya. Yang dilahirkan, diusahakan untuk menjadi sesuatu yang penting. Segala sesuatu dimulai dari sebuah konsepsi yang kuat, dan eksekusi yang dijabarkan dengan ideal.

Misalnya Asrul menulis dan menyutradarai Titian, yang dibuat ulang oleh Chairul Umam dan tetap menjadi film yang bagus dan bicara tentang sebuah masa yang sama sekali berbeda. "Kalau misalnya ada yang mau membuat film dari skenario Titian dengan setting perbatasan Aceh-Medan, misalnya, akan sangat menarik. Atau di Jawa Tengah atau di Jawa Timur saat muncul stigma tertentu tentang pesantren. Tentu skenario akan hidup lagi, " pikir Riza.

Kedua, Asrul, menurut Riza, mempunyai konsep dan pemikiran filsafat yang tidak tergila-gila pada bentuk tetapi pada saat yang sama juga menghargai bentuk. "Skenario yang bagus adalah timeless, tidak dimakan oleh waktu. Ada gagasan besar di dalamnya, tetapi di saat yang sama ada persoalanan-persoalan kecil yang pasti makin akan ada di masa apapun. Itulah skenario-skenario dari Asrul, " paparnya, panjang lebar.

Pengalaman hidup sebagai unsur penunjang penulis skenario juga diutarakan oleh Dinata. "Menjadi penulis skenario yang dalam tidak hanya memerlukan bakat dan imajinasi yang hebat, tetapi juga memerlukan "rasa" dan kesensitifan terhadap kehidupan. Apalagi ditambah dengan pengalaman hidup yang menarik penuh suka duka dari si penulis, pasti akan menambah ketajaman bercerita," tegasnya.

Dimuat di "A to Z About Indonesian Film"  (Dar!Mizan, 2006)

3  Suka  0 Komentar

Silahkan login atau mendaftar terlebih dahulu untuk memberikan komentar ke konten ini


Ekky Imanjaya