Asrul Sani dan Penulisan Skenario di Indonesia (2)

4 bulan yang lalu


Skenario Hari Ini

Lantas, bagaimana penulisan skenario pasca kepergian Asrul? Apakah Indonesia bisa mencetak penulis sekaliber Asrul dalam iklim industri film dan televisi sekarang ini?Sudah menjadi rahasia umum, kalau skenario baik di layar lebar atau pun produksi untuk tayangan televisi seperti sinetron serial atau film televisi sangatlah lemah. Tetapi, di satu sisi penulis skenario di Indonesia lemah, tetapi kebutuhan skenario makin banyak. Sekarang, sebulan sudah ada ratusan permintaan dari berbagai rumah produksi. Benarkah skenario di Indonesia selemah itu? Apa penyebabnya?

Semua narasumber membenarkan tentang kondisi penulisan skenario di negeri ini yang lemah. Dinata dengan tegas menyatakan kalau kondisi penulis skenario saat ini memprihatinkan. "Karena skenario yang orisinal dan kreatif sering dianggap tidak akan laku, " ungkapnya. Sedangkan Riza menyatakan bahwa dalam dunia skenario ada kemajuan tetapi ada juga kemunduran.

"Kita mulai masuk ke dalam era dimana film dilihat sebagai sebagai bisnis, peluang. Kalau sudah bicara peluang bisnis, maka film itu harus melihat pasarnya. Apa yang laku harus dibikin lagi biar nantinya laku lagi. Jangan membuat sesuatu yang orang tidak suka, tapi bikin yang masyarakat suka. Jadi, standar kualitas, orisinalitas, pemahaman, dan keinginan untuk melakukan sesuatu dengan ketrampilan yang baik, ini adalah kemunduran. Akan ada yang berusaha menjaga mutu, tapi berat. Di televisi, dengan iklim seperti sekarang semakin berat untuk melahirkan skenario yang bagus. Tantangannya luar biasanya. Karena ada standar yang sudah dibakukan yang menjadi kiblat mereka," jelas Riza, panjang lebar.

"Mestinya ada orang yang berpikir bahwa penulisan skenario adalah profesi yang punya harga diri. Kita bisa menjadi tukang yang menerima pesanan, tapi kita tetap punya standar kualitas, " tambahnya.

Umam menyatakan, penyebab kondisi menyedihkan ini adalah bakat menulis yang belum banyak. "Orang menulis skenario banyak. Tetapi bakat bercerita melalui film lewat skenario, itu yang kurang," katanya. "Kalau melalui novel dan cerita pendek, sudah banyak yang menulis. Tetapi bercerita melalui film, itu yang sedikit," ujarnya sambil menyatakan bahwa bakat bakat bisa diasah melalui latihan-latihan.

"Yang penting action! Mulai menulis!" tuturnya menyemangati. Umam melihat, sudah ada beberapa penulis yang bagus, diantaranya Jujur Prananto, Imam Tantowi, dan Armanto. "Ada juga yang berbakat, yang sebelumnya tidak pernah menulis skenario, seperti Untung Wahono".

Zaman yang berubah mungkin juga membuat penulisan skenario yang bagus susah didapat. Prananto menyatakan bahwa secara global, sekarang jaman kapitalistik.
Semua akhirnya mengacu kesitu. Akhirnya, mayoritas memandang bahwa film dan sinetron dipandang tak lebih dari komoditi dagang semata, bukan produk dari sebuah kebudayaan.

"Dulu pikiran seperti itu juga pernah ada, tetapi seolah-olah ada anggapan bahwa haram kalau karya seni menghasilkan keuntungan. Sekarang menjadi sah, bahkan menjadi tujuan. Karena yang paling membutuhkan stasiun televisi, yang membutuhkan produk yang bisa secepatnya mengembalikan modal mereka, " tutur penulis skenario sinetron Kupu-Kupu Kertas yang menggaet Piala Vidia sebagai cerita drama terbaik pada Festival Sinetron Indonesia 1998 itu.

Lantas, dengan industri film dan televisi yang sedemikian, adakah tempat bagi idealisme disana?

Prananto menyatakan bahwa makna idealisme sekarang sudah tidak tunggal. " Biasanya kalau seseorang berkarya sesuai dengan apa yang dia impikan, itu dealisme," jelas Prananto. Misalnya, seorang Sjuman Djaya ingin menciptakan hingar bingar jakarta, maka difilmkannya novel Opera Jakarta karya Arswendo Atmowiloto. Atau terobsesi novel Atheis, maka lahirlah film Atheis.

"Sekarang, rupanya idealisme tidak hanya itu saja. Bagi seorang pelaku penulisan skenario, ideal adalah bagaimana mencapai target tertentu, bahwa bagaimana saya bisa menjadi bagian dari produksi yang running-well," jelasnya.

Tetapi, idealisme jenis pertama masih bisa dipertahankan, asal sang penulis harus pandai-pandai menempatkan diri. "Kita mengejar harus lewat cara yang pas. Misalnya, saya punya idealisme, tapi datang ke PH yang sifatnya jelas-jelas seperti umumnya dewasa ini. Kita harus cari partner yang cocok dengan kita. Untuk sampai kesitu, kita memang perlu kesabaran ekstra. Dulu juga seperti itu, Sjuman ketemu dengan seorang produser, orang India yang "gila" mau mendanai," imbuhnya.

Umam memandang bahwa yang penting sekarang adalah mencoba dan mencoba. "Coba dulu dong. Buktinya Misbah bisa masuk. Padahal Misbah adalah orang yang idealis dan tidak mau didikte, " jelas pembuat sinetron spesialis Ramadhan ini.

Menurut Prananto, harus ada sikap yang mau menerima sistem kerja seperti yang bekerja sekarang ini. "Penulis skenario tidak bisa menjadi kegiatan buat klangenan, atau untuk kepuasan batin. Itu sudah susah, " jelas penulis cerpen Kado Istimewa yang terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 1992 itu. " Budayawan pasti gerah kalau masuk ke industri sinetron dengan karya yang diterima production house atau televisi. Karena sekarang mereka banyak yang meminta ketrampilan menulisnya saja, bukan wawasannya, " jelasnya.

Umam mengamini pendapat ini. Menurutnya, sekarang banyak tukang, daripada penulis skenario. Tetapi, kenyataannya, kebutuhan akan skenario semakin banyak, tetapi penulisnya sedikit. Maka, tukang pun dipekerjakan. "Penulis, lebih dari sekadar tukang. Dia mengerti teknis bagaimana bercerita melalui skenario. Ada teknik tertentu dan imajinasi visual, "jelas Umam.

Tukang-tukang ini akan bekerja apa saja demi kepentingan dan kemauan produser yang tidak selamanya baik. Misalnya dengan sistem kejar tayang yang hanya selisih satu episode, atau penjiplakan yang sudah sedemikian terangnya.

Prananto menyatakan bahwa kejar tayang hanyalah ekses saja, dan jelas menghasilkan karya yang cenderung lebih jelek daripada skenario yang diperhitungkan masak-masak.

"Itu sistem yang sebetulnya tidak sehat, tetapi paling sehat untuk saat ini, khususnya dari kaca mata produksi, " jawab Prananto." Soalnya resikonya terlalu besar. Kalau kita buat langsung 13 episode dengan ongkos produksi Rp 100 juta per episode, tanpa tahu apakah laku aau tidak, itu namanya kerja gila. Akibatnya, bikinnya sedikit-sedikit dulu. Akhirnya produksi jaraknya dekat dengan hari tayang, " katanya, menerangkan. Tetapi, diakuinya

bahwa menulis skenario on the spot (syuting episode tujuh, skenario episode delapan ditulis di lokasi syuting) memang tidak sehat. "Sangat menguntungkan dalam hal bisnis, tetapi sangat merontokkan urat syaraf penulis, " keluhnya, sambil tertawa kecil. "Kalau jaraknya masih 5 episode, lumayan. Ada kesempatan koreksi, dibaca orang, diskusi dengan sutradara, dan pengendapan," jelasnya.

:

Riza lebih tegas lagi. "Saya bisa menjadi sutradara di Multivision untuk episode bulan Puasa, misalnya. Misalnya ada 52 episode, akan ada Rp 520 juta. Kalau uang yang jadi tujuan, pasti saya terima. Tetapi ternyata kita bisa menolak dan memilih. Jadi, sebenarnya adalah masalah pilihan, " tegasnya.

Tetap Menulis Bagus

Dengan iklim industri film dan televisi yang seperti sekarang, bagaimana posisi penulis skenario? Mengapa penulis skenario masih dirasa kurang? Dan mengapa penulisan skenario masih saja banyak yang lemah dan penuh kekurangan?

Jujur Prananto mengaku tidak tahu apa yang menyebabkan penulisan skenario di negeri ini masih lemah, dan penulisnya masih sangat sedikit. Dia menyarankan agar ada sebuah lembaga yang membuat riset mengapa penulis skenario itu sedikit.

"Mungkin memang rasa-rasanya penulis skenario harus tahu film. Saya tidak perlu belajar karena saya suka film. Saya pernah ke lapangan, pula. Bagi saya, bagaimana membuat sebuah film sudah clear. Karena hal itu membuat kita mudah dalam menulis skenario. Karena, tingkat visibility-nya tinggi. Yang paling susah mungkin daya membayangkannya…" jelas Prananto. Prananto lantas membuka sedikit resepnya menulis. "Kalau proses saya, Saya membuat film dulu. Dari bekal ilmu yang saya miliki, saya buat film. 'Pantasnya dibuka dengan apa?' maka saya membuat film di kepala saya," buka Prananto

Sementara menurut Riri Riza, persoalan film di Indonesia, bukan hanya skenario, tetapi tentang konsepsi seperti 'apa sih film itu?' secara keseluruhan. Skenario adalah bagian dari itu. Dari aspek teknis, Riza tidak melihat adanya masalah, tetapi dari konsepsi.

Khusus tentang skenario, menurut Riza, skenario yang bagus lahir kalau diproses dengan proses yang wajar, antara lain adanya seorang produser yang tahu tentang film bagus.

"Sekarang produser adalah pemilik uang yang tidak tahu dan tidak belajar tentang film dan skenario. Kalau pun penulisnya bagus tapi produsernya tidak mengerti film bagus, penulis skenario tidak punya apa-apa, " keluhnya. Riza menyatakan bahwa sistem segitiga (Triangle System) adalah sistem yang bagus, sebagai alternatif dari sistem bintang.

"Ada seorang kepala produksi yang tahu tentang bagaimana berkomunisi dengan film, yang bekerja sama dengan penulis skenario dan sutradara yang akan memvisualkan skenario dan menjaga supaya film tetap menjadi film--bukan novel atau sastra--yang tetap punya pendekatan sinematis," paparnya, panjang lebar.

Riza menawarkan sebuah solusi. Baginya, perlu ada ada bibit-bibit produser film yang dibiarkan belajar tentang film, sastra, melihat genre, dan kecenderungan zaman. Barulah kemudian dibiarkan jadi produser yang sesungguhnya. "Misalnya ada lembaga yang mendidik 5 produser masa depan dan memodali masing-masing Rp 5 M, dan kemudan membiarkan mereka bekerja dan memproduksi filmnya. Mungkin, dalam 10 tahun ke depan, barulah Indonesia bisa mempunyai skenario-skenario film yang bagus, " harap Riza.

Kita semua mafhum bahwa dalam industri film dan televisi di Amerika Serikat, sistem kerja dan iklim yang bekerja juga menuntut penulis skenario untuk bekerja keras dan menjadi tukang. Tetapi mengapa muncul sinetron bagus semacam Gilmore Girls, 24, Friends, X-Files, Six Feed Under,C.S.I., atau Monk?

Tentu saja, salah satu jawabannya adalah, karena penulis skenario tahu betul apa yang dikerjakannya, dan tahu betul dunia kerjanya. Riza menyatakan bahwa seorang penulis skenario harus paham betul ladang yang harus dia masuki. Yaitu, formatnya, kecenderungan industri masa itu, dan mencari pendekatan-pendekatan baru. Format itu penting. Dengan menguasai format, berarti kita mengerti bahwa film adalah masalah tempo dan irama. Itu semua masalah format.

Masalah kedua tidak kalah pentiung. Sang penulis juga harus paham dengan industrinya. "Kalau kita mengandalkan hidup dari menulis, harus tahu industrinya, atau kita akan menjadi orang yang mengeluh dan menyalahkan orang lain. Kalau industrinya tidak cocok atau tidak suka, ya jangan masuk.Apalagi kalau dengan maksud ingin mengubah industri itu," jelas Riza. "Kalau tidak suka dengan medium televisi, jangan salahkan orang televisi. Kita mundur saja dan cari tempat lain. Msalnya di jalur produksi dan distribusi independen, jelas Riza, memberikan alternatif.

Menurut Prananto, untuk menulis skenario yang bagus dalam iklim industri yang seperti sekarang ini, ada beberapa langkah. Pertama, mengasah diri sendiri habis-habisan. Soal ini, yang mampu banyak. Tetapi langkah berikutnya adalah harus ketemu dengan orang yang cocok dan mempunyai kesadaran bahwa film atau sinetron adalah kerja bareng, bukan personal.

"Yang secara sadar mencari partner yang cocok dan menekan habis ego kita menjadi bagian dari seluruh tim, itu yang paling berat," tutur Prananto. Kesadaran akan kerja bareng itu yang jarang. Orang kalau sudah menulis, akan menjadi sangat posesif, itu sah-sah saja kalau dalam novel. Tetapi kalau di film, lain persoalan. Yang ditonton orang adalah filmnya, bukan skenarionya yang sebagian dari film. Itu yang berat, tapi bagi saya tidak. Karena tidak berat, jadi enteng saja melangkah, "sambungnya.

Zaman memang sudah berubah. Di masa lalu, seorang Asrul Sani sudah protes kalau kata "kau" diganti "kamu". Di masa lampau, seorang Misbah Jusa Biran akan marah bila adegan dalam skenarionya berkurang sedikit. "Dulu mungkin bisa seperti itu, tetapi masa sekarang sudah tidak mungkin lagi. Sekarang pembagian tugas, dan menulis skenario hanyalah satu dari banyak tugas dalam produksi film," jelas Prananto.

Mengubah mutu skenario di Indonesia tidak segampang yang dikira. "Untuk menjalankan sebuah revolusi, tidak mungkin dijalankan seorang tentara, tetapi beberapa kompi tentara dengan ahli strategi dan ekonomi serta dana yang banyak, "Riza bermetafor. "Jadi, tidak bisa ingin mengubah industri sinetron hanya bermodal 13 episode masterpiece, dengan produser yang juga idealis. Apalagi kalau ternyata ditayangkan jam 14.30 WIB, habis sudah! Bagaimana menaikkan jam tayang menjadi jam 19.30 WIB, itu butuh uang," tambahnya.

Bagaimana kiat menulis skenario yang bagus? Apa yang salah dari sebagian penulis skenario kita? Berikut kiat menulis bagus, khususnya bagi pemula atau yang baru ingin bergabung ke dunia penulisan skenario.

Riza memberi masukan:"Kita menulis bukan dengan perasaan, tetapi dengan apa yang dilihat oleh kamera dan didengar oleh suara."

Umam memberikan syarat bagi penulis skenario yang ingin memberikan karyanya kepadanya. " Saya akan melihat temanya, perkembangan atau progresi cerita, karakter yang jelas perbedaannya. dan solusi yang beralasan, endingnya bukan tiba-tiba saja berhenti atau muncul tapi tidak ada proses. Tetapi ada building dramatic. Itu yang kadang-kadang tidak tergarap oleh orang yang tidak berbakat menulis skenario," jelasnya.

Sementara Dinata menyatakan bahwa penulis yang baik haruslah yang punya cerita yang orisinal, pengkarakteran yang jelas, dan alur cerita yang mengalir.

Oke. Tampaknya industri film dan televisi masih membutuhkan penulis skenario yang bagus dan bermutu. Kalau Anda mengeluh tentang kondisi cerita-cerita sinetron atau film yang buruk, kini saatnya bertindak. Letakkan majalah ini. Camkan apa kata narasumber, dan mulailah menulis. Siapa tahu, kita bisa memberikan sumbangan kecil pada dunia skenario. Dan, boleh jadi, siapa tahu Anda menjadi the next Asrul Sani, bahkan lebih baik darinya? Semoga saja.

Ditulis tahun 2004. Dimuat dalam buku "A to Z About Indonesian Film" (Dar!Mizan, 2006)

2  Suka  0 Komentar

Silahkan login atau mendaftar terlebih dahulu untuk memberikan komentar ke konten ini


Ekky Imanjaya