Fenomena bernama SinemaIndonesia (+ Wawancara Eksklusif)

3 bulan yang lalu


Pengantar 2020: Tulisan lama tentang sebuah situs kritik film yang sempat bikin kegaduhan. Berawal dari multiply lantas mereka punya website sendiri. Semua penulisnya pakai nama samaran. Tak disangka email saya yang berupa daftar pertanyaan wawancara dijawab mereka, dengan tetap merahasiakan identitasnya. Wawancara ini awalnya mau dimuat majalah Tempo, tapi tak jadi karena mereka terlanjur membubarkan diri, dan karenanya dianggap tidak aktual. Lantas saya kirm ke Indosinema, sebelum akhirnya saya muat di blog saya di Multiply pada 19 Mei 2007. 



Pengantar: Sebuah tulisan saat fenomena blog bernama SinemaIndonesia di MP (sekarang sudah mantaf di sinema-indonesia) menggema sekitar satu tahun lalu. Sekarang sih isu SI sudah jauh mereda. Tulisan ini ditolak dimana-mana, sampai majalah gratis Indosinema memuatnya. Dilengkapi dengan wawancara via surel dengan ketiga trio pengurus SI. Selamat membaca. Semoga masih kontekstual dengan suasana kiwari.


Tumbuhnya jumlah produksi film Indonesia,(seharusnya) melahirkan para kritikus film juga. Kritikus film (seharusnya) adalah bagian dari industri film. Tapi, ternyata kritikus film tidak banyak juga pertumbuhannya, khususnya dalam segi kualitas. Yang banyak adalah penulis resensi film yang kebanyakan hanya menulis ulang soal cerita, nama casting dan kru, sambil sesekali membocorkan akhir cerita. Tapi itu masih lebih baik dari pada menggosip dan mengganggu privacy orang lain.

Di lain pihak, masih banyak orang yang seharusnya berpotensi untuk menjadi penonton film Indonesia pada akhirnya trauma untuk melihat lagi film Indonesia, “hanya” karena pernah melihat 1-2 film Indonesia yang memang berkualitas buruk. Adik ipar saya adalah salah satunya yang trauma menonton film Indonesia. Pun demikian dengan istri saya yang, kalau tidak karena pengorbanannya kepada saya, tidak bakal menonton film Indonesia. “Tidak mau menontonnya di bioskop, karena sayang duitnya,” celetuk istri saya. Dan banyak sekali masyarakat yang setelah menonton film Indonesia menggerutu sendiri, atau berdiskusi (baca: menyebarkan opininya tentang kejelekan) soal film yang baru dilihatnya, atau menuliskannya di friendster atau mailing list mereka atau weblog (blog) pribadi mereka. Pendek kata: mereka kecewa, dan trauma. Dan yang lebih dari itu: mereka berkomentar dan menuliskan kekecewaannya itu.

Dan sebuah situs, dalam beberapa bulan terakhir, lumayan menarik perhatian komunitas film dunia maya. Mereka adalah situs SinemaIndonesia. Trio Ferry Siregar, Dodi Mahendra, dan Nanda Meilani (tentu saja ketiganya adalah nama samaran) menuliskan opini mereka tentang film Indonesia secara sinis, nyinyir, pedas dan—sialnya—“cerdas”. Dan lebih sialnya lagi: sebagian besar opini mereka diaminkan oleh para pengunjung situs mereka. Semua film Indonesia—kecuali Janji Joni, Ketika, dan Rindu Kami PadaMu—dihujat habis-habisan dengan gaya bahasa yang kocak namun menohok. Seolah kerjanya hanya mencemooh dan menertawakan film Indonesia.

Coba saja simak kancut rating system yang mereka ciptakan. Atau simak komentar soal film Psikopat: “Ancur. Film ini ancur. Kami tidak tahu lagi harus bilang apa” atau “Buka Kompas hari Sabtu, cari pekerjaan baru”.

Tentang Alexandria, ditulis kutipan dialog: "Lo tahu nggak apa yang paling mahal di dunia ini?Detik yang baru saja berlalu. Kita nggak bisa bisa beli itu lagi,", dan diberi “syarah”: “Saya setuju tapi juga kesal karena saya sadar bahwa saya tidak akan bisa mendapatkan kembali 110 menit yang saya buang menonton film ini”.

Untuk Missing, cukup satu kalimat: We are sorry, review for this bad rip-off movie is missing. Judul Bad Wolves diubah menjadi Very Very Bad Wolves, sedangkan Kejar Jakarta menjadi Djarum Cokelat--sponsor mereka. Untuk Dealova, mereka mengutak atik nama dengan gaya anagram seperti Die, I'm Sad (Addie MS) dan Namita Sasdi (Dian Sasmita). Film-film kelas FFI semacam Gie dan Brownies pun tak luput dari celaan.

Sesekali mereka menjahili rekannya: “Review ini adalah pendapat saya pribadi karena Dodi Mahendra yang belum pulih dari trauma setelah menonton Apa Artinya Cinta?, sekarang gila setelah menonton Belahan Jiwa. Saya harus mengurungnya di rumah karena dia menolak untuk keluar dengan memakai celana. Kasihan dia”.

Situs ini, mendapat banyak tanggapan , khususnya bagi sebagian penonton Indonesia yang kecewa. Mereka seolah menemukan wakilnya yang menyuarakan kekecewaan mereka. Tapi akhirnya malah terkesan menjadi mencemooh dan hanya bisa menertawakan karya, tanpa berupaya mengapresiasinya.

Kalau para pembuat filmnya berjiwa matang dan dewasa, mereka akan terima kritik itu dengan lapang dada. Bahkan bisa dibilang, mereka seperti melihat cermin sendiri, mentertawakan diri sendiri. Tapi agak susah juga menerima kenyataan karya kita sekadar menjadi bahan olok-olokan dan lucu-lucuan semata. Banyak juga yang beropini bahwa kritik mereka buruk dan tidak bermutu, dan tidak layak disebut “kritik film”.

Situs ini berawal dari Ferry dan Dodi yang berteman dari SMP. Keduanya bertemu Nanda—seorang jurnalis di meja budaya dan hiburan—lewat dunia maya. Nanda membuat mereka tahu kondisi industri film Indonesia dari dalam. ” Jangan sampe mereka tau gue siapa. Ntar nggak pernah diundang lagi. Hehehe,” jelas Nanda.

Menurut Dodi—tentu saja mereka menjawab wawancara ini lewat surat elektronik--situs mereka hadir karena mereka melihat reviewer film Indonesia punya masalah besar, yaitu menutupi kekurangpahaman dan referensi tentang film dengan pamer bahasa indah. Padahal kritik film yang jujur sangat diperlukan. ”Kalau tidak ada yang mengkritik, yang rugi ya filmmaker sendiri,” jelas Dodi. Dodi dengan tegas menyatakan bahwa mereka tidak sedang mencari musuh baru. ”Misi kami adalah berkontribusi dalam kemajuan perfilman Indonesia. Filmmaker Indonesia nggak bisa dikasih tau dengan lembut lagi karena udah terlalu bebal. Mesti ditonjok”, jelas Dodi sambil menyatakan kalau semua review mereka tulis dengan cinta.

Bagi mereka, fungsi kritikus adalah sebagai viewing guide bagi penonton, dan masukan bagi sineas--dan itu yang tidak mereka temukan dalam kritikus sekarang. ”Bisa dibilang, kami bikin SinemaIndonesia karena Joko Anwar berhenti nge-review film. Biarpun dia nggak selucu kami. Hahaha,” seloroh Ferry. Sedangkan Dodi terinspirasi oleh www.aintitcool.com.”Kritikus mesti punya referensi film yang luas. Nggak sok pinter dengan mengutip Nietzche, nggak merasa harus pake istilah-istilah yang susah, ”begitu kredo mereka.

Tentu saja, diantara mereka tidak harus sepakat. Misalnya, Nanda suka Belahan Jiwa, sedangkan Dodi dan Ferry benci. ”Kalo nggak sependapat, ya nggak apa-apa. Kalo perlu bikin dua review yang berbeda,” tulis Nanda.

Tapi, apakah yang mereka tulis itu benar-benar kritik film? ”Menurut saya ini hanya kerja asyik-asyikan beberapa orang yang suka bercanda dan punya banyak waktu di depan internet kantor mereka. Mereka gak bisa bikin film sendiri, dan menemukan kalau mencela lebih gampang,” komentar Riri Riza, sutradara film Gie dan Untuk Rena. “Review lucu lucuan sependek itu belum bisa memberi stimulan buat saya untuk memikirkan isinya secara serius, tambahnya.

Bagi Prima Rusdi, penulis skenario, fungsi kritikus film dan pembuat film sebetulnya saling berseberangan tapi saling mengisi. ”Kita lagi di era 'belajar'.Belajar buat film, belajar demokrasi, belajar memberi kritik dan belajar memberi kritik. Kritik sinis asal fokusnya pada karya dan bukan personal attack, sah-sah saja. Pembuat film juga punya kapasitas menerima masukan, selain punya kapasitas melatih selera humor yang baik, sesekali perlu mentertawakan diri sendiri secara sehat karena kemampuan make fun of oneself ini sebetulnya menandakan si orang yang bersangkutan siap 'membayar' harga yang harus dibayar siapapun yang sudah memilih bekerja di bidang kreatif yang hasil kerjanya dikonsumsi orang banyak,” jelasnya, panjang lebar.

Bagi Prima, pekerja film tidak punya wewenang untuk menentukan apakah orang lain harus suka atau tidak suka pada hasil karyanya. ”Kami Cuma bisa bekerja sebaik-baiknya. Setelah pekerjaan tuntas dan dilempar ke publik, pekerjaan itu jadi milik semua orang, jadi siapapun, dengan catatan sudah 'mengkonsumsi' karya kreatif ikut jadi pemilik pekerjaan itu dan boleh berpendapat soal pekerjaan tersebut. Pendapat jadi sah bila isinya bisa digunakan sebagai masukan bagi pembuat karya kreatif itu, tapi jadi tidak bermanfaat kalau hanya untuk kepentingan mengkritik demi kritik alias supaya terlihat punya pendapat, tapi tidak punya esensi yang ingin disampaikan,” imbuhnya.

Sebenarnya, ada kelemahan utama dari SinemaIndonesia. Mereka tidak mencantumkan nama aslinya, sehingga opini mereka sebenarnya tidak bisa (atau tidak mau) dipertanggungjawabkan. Padahal, pencantuman nama asli sangat penting untuk pertanggungjawaban isi tulisan kita. Mereka ingin jujur, tapi mereka tidak sepenuhnya jujur, karena tidak memberitahukan identitas mereka kepada orang akan memprotes atau kritik balik seandainya ada pembaca ada yang tidak puas. Dan seolah mereka tidak butuh feed back. Mungkinkah karena ”adat Timur” yang menghambat? Kalau saja mereka memproklamirkan dirinya terang-terangan, dan kenal dengan pembuat filmnya, maka kritikannya tidak lagi tajam dan berani, karena terkungkung rasa segan atau tidak enak?

”Kok kayaknya tanggung amat ya?” komentar Prima. ”Kalau memang mau jadi 'oposisi' menurut saya sekalian saja terang-terangan. Karena ya itu tadi, bentuk penyikapan terhadap apapun, palagi kalau niatnya ingin memberi masukan terhadap industri harus istilahnya berkesinambungan,kalau sebentar-sebentar apalagi dari awal dirancang hanya cari sensasi, bisa jadi tidak akan berumur panjang,” tambahnya.

“Mereka undercover karena ingin jujur tapi takut. Jadi ya gak jelas dong, jujur kok takut? Teman yang baik juga bisa mengkritik teman bukan?” tegas Riri. “Dan kelompok SinemaIndonesia ini bukan kritikus, belum sampai. Kalau di karate baru ban putih. Nah karena masih review tingkatnya jadi ya gak masalah juga, belum terlalu penting apakah mereka under atau tidak,” jelasnya lagi.

Sekecil apa pun jumlah pembacanya, situs SinemaIndonesia setidaknya mewakili sebagian penonton Indonesia yang kecewa. Penonton yang tak bernama dan suaranya tidak terdengar karena mereka tidak menulis di media besar (atau tulisannya tertolak sang redaktur). Bagi Dodi, mereka tidak mencoba mewakili siapa pun, tapi: We are you. We are inside of you. Like it or not. We are you.

Tiba-tiba saya teringat dengan pendapat Pak Haji Deddy Mizwar saat ngobrol suatu ketika: “Ky, lu nulis kritik film yang lu rasa ada yang berharga buat ditulis. Kalau tidak berharga, atau filmnya jelek, ya gak usah ditulis! Sesuatu yang kau tulis haruslah sesuatu yang berharga”. Hal yang patut untuk direnungkan semua pihak.

WAWANCARA:

26 Pertanyaan untuk Trio SinemaIndonesia


1. bisa dijelaskan bagaimana kalian bertiga (plus penulis tamu) bertemu dan kemudian sepakat membuat situs ini? mengapa gratisan, apa karena pengen bener2 underground?


Ferry:
Gue ama Dodi bertemen dari SMP. Nanda kami kenal lewat multiply setelah setiap hari ngirim e-mail maksa buat gabung. Dia juga ngasih contoh tulisan dan kami sangat suka. Akhirnya kami ketemu dan cocok. Apalagi Nanda jurnalis bagian budaya dan hiburan, jadi bisa ngasih inside information soal perfilman lokal.

2. apa latar belakang pembuatan situs ini? update nya suka2 apa ada jadwal? bagaimana pembagian tugas nulisnya? sadar gak sih kalau kalian buka front "mencari musuh baru"?

Dodi:
Reviewer film Indonesia punya masalah besar: menutupi kekurangpahaman dan referensi tentang film dengan pamer bahasa indah. Lihat saja review film Gie di Kompas. Oh my God. Atau kalau tidak sok pintar, ya simply terlalu bodoh. Lihat saja review film Alexandria di Kompas yang memuji product placement rokok A-Mild yang mereka bilang cerdik. OH MY GOD! Sebelum Joko Anwar jadi filmmaker, kami membaca review film di Jakarta Post setiap minggu sebagai agama. Sayangnya dia tidak pernah mereview film lagi. Kalau tidak ada yang mengkritik, yang rugi ya filmmaker sendiri.

Kita update-nya suka-suka dan nggak ada pembagian tugas. Siapa yang available aja.

Membuka front "mencari musuh baru"? Nggak tuh. Kamu sebenernya mau membantu perfilman Indonesia.

3. mengapa mengkhususkan pada film indonesia?

Ferry: Karena kami nggak peduli sama film luar. Kami peduli sama film Indonesia.

4. mengapa underground? apakah ini agar bisa lebih jujur dan terbuka--secara kalau kita kenal, g enak dengan filmmakernya karena "adat ketimuran"?

Kenapa make multiply? Karena buatnya gampang. Nggak ada satupun di antara kami yang bisa bikin website. Ha ha ha.

5. kalian sungguh mengobrak abrik perfilman indonesia? mengapa sebagian besar isinya memaki-maki? apakah memang sebagian besar film2 kita emang bener2 sejelek itu?

Dodi:
Baca lagi deh review-review kita, nggak ada tuh yang memaki-maki. Semua review kami tulis dengan cinta. Sebagian besar film Indonesia jelek? Jelek banget!

6. apa sih standar ukuran "film bagus" bagi anda? dan kalau film indonesia, ada g yg udah pernah dibikin? misalnya apa?


Dodi:
Standar film bagus ya di mana-mana sama. Kami nggak mau bikin standar yang beda buat film Indonesia. Ada banyak kok film Indonesia yang bagus. Untuk tahun ini, Janji Joni misalnya, yang melanglang buana ke seluruh dunia. Di Indonesia, kurang dianggap karena temanya katanya terlalu ringan. Ini masalahnya di Indonesia. Kalau nggak kelihatan berat, nggak dianggap. Untung aja TEMPO memilih Janji Joni sebagai film terbaik tahun 2005.


7. sebenarnya, menurut kalian, apa fungsi dan posisi kritikus film di indonesia? untuk sekadar bilang bagus jelek? untuk menemukan makna2? untuk bikin filmnya laku or flop?


Dodi:
Fungsi kritikus di mana-mana seharusnya sama. Buat penonton, sebagai viewing guide. Buat filmmaker, buat masukan. Untuk menemukan makna? Hmm, makna apa? Yang dalem-dalem gitu kami nggak ngerti.


8. pendapat kalian, sebaiknya kritikus yg baik itu yg emang bener2 unknown or tidak dekat dengan filmmaker? apa justru harus kenal biar dapat komentar dari orang dalam/pembuatnya?

Kritikus seharusnya nggak berteman dengan filmmaker. Nulis review nggak mesti dapet komentar dari filmmakernya. Karena review film bukan news.


9. bagaimana kalian bisa sekritis dan selucu itu? dapat ilham atau inspirasi darimana? ada gak sih penulis or kritikus or situs film koncian kalian yg kalian tiru atau "inspired by"?

Ferry:
Bisa dibilang, kami bikin sinemaindonesia karena Joko Anwar berhenti nge-review film. Biarpun dia nggak selucu kami. Ha ha ha.

Dodi:
Reviewer favorit gue, mungkin bisa dibilang inspired by: http://www.aintitcool.com.


10. atau, dengar2 dari penonton /teman yg nonton?


Nanda:
Banyak komentar-komentar lucu yang kami dapat dari komentar teman-teman. Tapi kami selalu bilang, "komen elo gue pake, ya."

11. gw pikir kalian sangat cinta dengan film indonesia. buktinya, selalu memaki, tapi selalu menonton juga, kok. benar gak tuh? apa kalian penganut "katakan cinta dengan kritik"?

Ferry:
Cinta bener. Rencananya, setelah perfilman Indonesia bener, baru kami (gue ama Dodi seenggaknya) masuk ke dunia perfilman. Sekarang sih males.


12. bbrp tulisan menandakan kalian ada di event preview/pressconference/premiere? benarkah?


Nanda:
Gue beberapa kali dapet undangan ke press conference dan premiere. Jangan sampe mereka tau gue siapa. Ntar nggak pernah diundang lagi. He he he…

13. bagaimana kriteria kalian dalam menilai? apa harus disetujui ketiganya? apa ada kasus kalian bertiga tidak sependapat dan marah or ngambek?


Nanda:
Nggak mesti setuju. Contohnya, gue suka Belahan Jiwa, sedangkan Dodi ama Ferry benci banget. Kalo nggak sependapat, ya nggak apa-apa. Kalo perlu bikin dua review yang berbeda.

14. bagaimana masa depan film indonesia?

Ferry:
Lebih cerah, karena sekarang kami ada. Ha ha ha.


15. bener gak pendapat gw kalau kalian adalah wakil dari sekelompok penonton yg merasa trauma/sebal dengan rendahnya mutu film indonesia?


Dodi:
Kami nggak mencoba jadi wakil siapa-siapa. Tapi kalo mewakili, ya alhamdulillah.

16. gimana cara ningkatin mutu film2 itu?


Ferry:
Cara ningkatin mutu film? Nggak ngerti kita.

17. referensi kalian oke. sering banget nonton ya? or baca?


Ferry:
Kemanapun kami pergi, kami selalu hunting film. Di kosan gue ama Dodi, elo bakal nemuin judul-judul yang nggak pernah elo denger sebelumnya. Setiap hari kami bisa nonton empat judul. Kalo buku-buku, bokapnya Dodi punya banyak buku tentang film di perpustakaan pribadinya. Tuh tempat surga juga tuh.

18 serius lu, yg bagus selama ini cuma 'janji joni', 'ketika', 'virgin', dan 'rindu kami padamu'?

Ferry:
Serius. Tapi baca lagi deh soal Virgin. Kami ngasih tuh film tiga bintang bukan karena bagus.

19. dengar kasus insiden kecil di ffi (lihat situs www.pakde.com). apa komentarnya?

Ferry:
Yang mana? Soal para filmmaker saling tuduh kalo kami adalah mereka? They wish… Ha ha ha… Tapi kalo ada yang nuduh Joko Anwar ada di grup kami, kami tersanjung. Yang printil-printil begitu, kami nggak ambil pusing. Aneh juga para filmmaker punya waktu buat ngurusin hal-hal nggak penting kayak gitu. Pantesan perfilman kita nggak maju-maju.


20. sebenarnya, apa sih target, visi, misi, tujuan, kalian?


Dodi:
Misi kami adalah berkontribusi dalam kemajuan perfilman Indonesia. Filmmaker Indonesia nggak bisa dikasih tau dengan lembut lagi karena udah terlalu bebal. Mesti ditonjok.

21. kl gw or ada org yg pengen bikin program tv kayak kalian--tentu saja kalian yg jadi host or narsumnya, misalnya---boleh gak?


Ferry:
Bikin program boleh aja, tapi kami nggak akan jadi host atau narasumber. Kami menghindari spotlight. Nggak penting itu.

22. gmn kondisi kritikus film dewasa ini? menurut gw kurang banget. gw aja komentar di trans tv (nomat, tiap hari jam 14.30) dan showbiznews metrotv aja dimaki2, padahal komen gw g ngejatuhin banget.

Ferry:
Kritikus film memang by nature adalah untuk dimaki-maki sama filmmaker. Makanya kritikus dikasih julukan “the enemy”. Nggak usah diambil pusing. Terima aja.

23. gimana komentar kalian kl filmmakernya bilang:"ah elu kagak ngerti film gue!" atau "lu bisa gak bikin film! bikin film itu susah, tau!".


Dodi:
Kita jawab, “Kalo kita nggak ngerti film elo, ya itu kegagalan elo sebagai filmmaker. Kita aja yang pinter nggak ngerti, apalagi yang bodoh.”. Pertanyaan kedua nggak kami jawab, karena pertanyaan bodoh.

24. kayaknya fans kalian juga banyak tuh. wah jd seleb baru nih...;P.

Ferry:
Masak sih, Mas.

25. boleh tau film favorit, aktor/aktris/sutradara? dari indo dan luar ya?

Ferry:
Film favorit terakhir: Me, You, and Everyone We Know & Janji Joni
Aktor favorit: Harvey Keitel, Michael Madsen.
Aktris favorit: Jodi Foster, Mia Sorvino.
Sutradara favorit: Alan Parker, Sam Raimi.

Dodi:
Film Favorit: Little Otik, El Topo, Holy Mountain, semua film David Lynch, semua film Benyamin S., dan Janji Joni
Aktor favorit: Jack Black, John Cusack, Benyamin S.
Aktris favorit: Lili Taylor
Sutradara favorit: David Lynch

Nanda:
Film favorit terakhir: Me, You, and Everyone We know
Aktor favorit: Jack Black, Ewan McGregor, Bill Murray
Aktris favorit: Scarlett Johannson.
Sutradara favorit: Sofia Coppola

26, menurut kalian, kritikus yang asyik (baik dan benarlah) apa sih kriteria dan standarnya?)

Ferry/Dodi/Nanda:
Kritikus mesti punya referensi film yang luas. Nggak sok pinter dengan mengutip Nietzhe, nggak merasa harus pake istilah-istilah yang susah.

wah, banyak juga ya?
apa lagi ya? kl mau nambahin, silahkan ya?
sebenarnya, gw pengen tanya satu lagi: sebenarnya, kalian ini siapa sih?tapi pasti gak dijawab. ;P


Siapa kami? We are you. We are inside of you. Like it or not. We are yo

2  Suka  0 Komentar

Silahkan login atau mendaftar terlebih dahulu untuk memberikan komentar ke konten ini


Ekky Imanjaya