Haji Agus Salim dan Pertemuannya dengan Imam Hassan al-Banna

3 bulan yang lalu


Hari itu, 7 April 1949, di terjadi pertemuan penting di Kairo. Untuk pertama kalinya, delegasi resmi pemerintah RI mengadakan perjalanan luar negerinya, dan Mesir adalah negara pertama yang dikunjungi. Haji Agus Salim membawa rombongan yang terdiri dari Sutan Syahrir, Mr. Nazir Pamentjak. Dr. H.M. Rasyidi dan M Zein Hassan. Pahlawan asal Kotogadang itu menyampaikan rasa terima kasih bangsa Indonesia atas dukungan Mesir terhadap kemerdekaan Indonesia. Lawan bicaranya adalah sang pemimpin umum, Hasan Al-Banna.

Inilah buah manis dari perjuangan diplomatik Indonesia di bawah pimpinan Haji Agus Salim untuk menggalang pengakuan dan kerjasama dengan dunia internasional. Kepiawaian kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat9 Oktober 1884 ini dalam berbahasa Arab dan kerja kerasnya berinteraksinya dengan berbagai tokoh Timur Tengah mulai tampak. Pada 22 Maret 1946, Pemerintahan Mesir, atas desakan Al-Banna, mengakui kemerdekaan Indonesia. Dan langkah Negeri Piramida ini diikuti oleh negara-negara Arab lainnya.


Pada 26 April 1946 delegasi pemerintah RI kembali tiba di Kairo. Kali ini di Hotel Heliopolis Palace. Haji Agus Salim dan rombongan bertemu sekali lagi dengan Al-Banna, dan beberapa pejabat tinggi mesir dan Arab, serta para pemimpin partai dan organisasi setempat. Para petinggi ini menyampaikan rasa simpatinya sebagai sesame negara yang baru merdeka.

Pria yang pernah menjadi dosen luar biasa di Cornell University dan Princenton University, Amerika Serikat itu adalah sosok diplomat yang tiada tandingannya. Pengetahuannya tentang Islam dan kefasihannya berbahasa Arab—disamping bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Turki dan Jepang --telah membuat berbagai bangsa mendukung dan mengakui Proklamasi 1945, khususnya di tanah Arab. Kedekatannya dengan berbagai ulama di Mesir—mungkin berawal dari karirnya sebagai penerjemah Konsul Belanda di Jeddah, dan menjadi murid Syeikh Ahmad Khatib bersama Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari di Mekkah-secara tak langsung membuat para kyai Mesir mendirikan Lajnatud Difa'i'an Indonesia (Panitia Pembela Indonesia). Badan ini dideklarasikan pada 16 Oktober 1945 di Gedung Pusat Perhimpunan Pemuda Islam dengan Jendral Saleh Harb Pasya sebagai pimpinan pertemuan. Hadir dalam acara itu antara lain Syaikh Hasan Al Banna dan Prof. Taufiq Syawi dari Ikhwanul Muslimin, Pemimpin Palestina Muhammad Ali Taher, dan Sekjen Liga Arab Dr. Salahuddin Pasya. Dari sini timbul benih untuk mendesak pemerintah mereka secara politik luar negeri mengakui Indonesia sebagai negara yang berdaulat. Salah satu usaha mereka adalah Tokoh-tokoh Islam itu menyerukan boikot terhadap kapal-kapal Belanda yang mampir di Terusan Suez, bahkan para buruh di kapal mengibarkan bendera merah putih.
Liga Arab--terdiri atas Mesir, Arab Saudi, Lebanon, Suriah, Jordania, dan Yaman—pun ikut mengakui kedaulatan RI dan mereka bahu membahu membantu Indonesia di forum-forum Internasional.

Di balik kesuksesan itu, ada seorang pendiri bangsa paling senior, Haji Agus Salim. Ia menjabat sebagai menteri luar negeri dalam tiga periode (3 Juli 1947-20 Desember 1949), yaitu pada Kabinet Hatta I, Kabinet Amir Syarifuddin II, dan Kabinet Amir Syarifuddin I. Dan Timur Tengah hanyalah sebuah awal. Kerjasama berikutnya, di bidang perdagangan dan diplomatic, terjalin dengan Mesir dan Saudi Arabia.

Pada 22 Maret 1947, ia memimpin delegasi ke New Delhi India untuk mengunjungi Inter Asian Relation Conference yang digagas PM Jawaharlal Nehru untuk membicarakan perjuangan negara-negara Asia yang waktu itu belum juga diakui oleh Belanda. Hadir pula Jendral Aung San dari Birma.

Kerjasama internasional yang dibina Salim membuat warga dunia menolak Agresi Militer Belanda, 21 Juli 1947. India dan Australia, 30 Juli 1947, membawa persoalan Indonesia ke Sidang Dewan Keamanan di Lake Success, AS. Tentu saja Agus Salim--bersama Sutan Sjahrir, harles Tambu, Sudjatmoko, dan Sumitro Djojohadikusumo--hadir.

Bersama Sutan Syahrir, pemilik nama asli Masyhudul Haq Salim juga mengajak negeri sosialis, seperti Ukraina dan Chekoslowakia, untuk mendapatkan dukungan diplomatic.

Atmosfir nilai kerjasama begitu kental dalam diri Salim, dan didukung oleh berbagai keahliannya. Tugasnya sebagai diplomat membuatnya bertemu dengan para tokoh dunia. Ia bisa fasih berbahasa Inggris dengan Prof George Kahin, dan sesaat kemudian berdiskusi dengan Ngo Dinh Diem (yang kemudian menjadi Perdana Menteri Vietnam) dalam bahasa Prancis. Ia juga melumerkan suasana dengan menyentil Pangeran Philiph saat menghadiri penobatan istrinya, Ratu Inggris Elizabeth tahun 1953. Tapi hidupnya selalu bersahaja. Prof. Schermerhorn, penandatangan Perjanjian Linggarjati, dalam catatan hariannya tertanggal 14 Oktober 1946, menulis: “Orang tua yang sangat pandai ini seorang jenius dalam bidang bahasa, mampu berbicara dan menulis dengan sempurna dalam paling sedikit sembilan bahasa, mempunyai hanya satu kelemahan, yaitu selama hidupnya melarat.”

Catatan: Tulisan lama, dimuat di Majalah Nebula. Saya muat lagi di blog di Multiply, 22 Mei 2007.

2  Suka  0 Komentar

Silahkan login atau mendaftar terlebih dahulu untuk memberikan komentar ke konten ini


Ekky Imanjaya